Aku Kalah Lagi; En



En, kau tahu berapa harga yang harus kubayar hari ini untuk satu atau dua jam ketenangan? Di dunia hari ini, ketenangan terasa seperti komoditas paling mewah bagi manusia sepertiku,En

Sepanjang jalan menuju coffeeshop siang tadi, aku sibuk mengaudit batinku sendiri. Aku banyak bertanya pada diriku. Seperti kenapa sesuatu yang mestinya menjadi hak dasar—seperti rasa aman di rumah—malah terasa seperti barang selundupan yang sulit kudapatkan ya En? atau itu hanya perasaanku saja?

Mungkin aku memang tidak beruntung ya, En. 

Ketidakberdayaan ini membuatku merasa terlalu kerdil untuk mengambil keputusan besar, seperti berpikir untuk menikah atau memiliki buah hati. Secara psikologis, aku takut melakukan transmisi trauma. Rasanya jahat sekali jika nanti aku membiarkan anakku mewarisi bola kusut di kepalaku. Aku tidak mau gegabah berelasi, En. Ketika orang lain sibuk mencari kambing hitam pada pasangan mereka, aku justru lebih mahir melakukan self-blame

Aku adalah hakim sekaligus terdakwa paling kejam bagi diriku sendiri, En.

En, di sisi lain aku juga sudah lelah merombak tata letak kamar demi mencari spot terbaik untuk fokus. Tapi nihil. Sebagus apa pun estetikanya, ia tidak akan mampu meredam kebisingan di dalam tempurung kepalaku. Kadang aku ingin melakukan fugue state—pergi saja tanpa peduli esok hari. Tapi kau tahu, pengalaman batin ini pula yang membuatku bertahan secara kinetik hingga hari ini. Ironis, bukan? Luka yang menghancurkanku adalah bahan bakar yang menggerakkanku juga En.

Juga ada saat-saat di mana saraf sensorikku seolah mati rasa. Aku tidak merasa sakit ketika kepalan jariku menghantam tembok kamar. Aku hanya ingin memvisualisasikan lebam batin menjadi lebam fisik yang bisa kulihat. Tapi setelahnya, dopamin itu hilang, berganti rasa berdosa yang luar biasa. Terutama pada Ibu. Aku merasa sedang menghina karyanya; melucuti diri yang ia lahirkan dengan susah payah. 

Aku kalah lagi, En.

Meski aku memegang gelar sarjana komunikasi, aku tetaplah seorang amatir dalam mengomunikasikan perasaan pada orang terdekat. Ternyata, tidak ada rumus yang mudah untuk memaafkan luka yang telah membentuk struktur kepribadian kita hari ini. Orang bilang aku pendendam, tapi mereka mungkin lupa bagaimana mekanika batin bekerja saat menghadapi ketidakberdayaan. 

Sangat berisik, En. Sangat melelahkan.

Sejak Ibu pulang dipeluk Tuhan dua tahun lalu, aku merasa setengah dari sistem biologisku ikut terkubur juga, En. Aku hanyalah mayat hidup yang sedang mencari jalan kembali ke rahimnya. Ramadhan kedua tanpanya, tubuhku seperti frekuensi yang kehilangan sinyal. Tidak ada lantunan ayat suci keluar dari mulut Ibu yang menjadi white noise paling damai di telingaku.

Beberapa hari lalu, aku menangis selepas Isya. Meminta Tuhan menghadirkan Ibu dalam tidurku, tapi hasilnya nihil. 

Apakah dosaku sudah melampaui ambang batas toleransi semesta, En?

Se gagap ini aku dihadapan kehilangan manusia yang kukasihi, En?

Aku kalah lagi, En.


Tasikmalaya, 17 Februari 2026

Komentar

Postingan Populer