Bandung
En, aku kembali menyusuri Bandung. Memutar semua memoar yang fasih kuingat. Kota kembang ini sebagaimana mestinya, selalu penuh dengan lagu-lagu. Sepanjang jalan aku tidak berhenti mendengar nada yang begitu karib dengan udara Bandung— lagu-lagu Noah dan Danilla. Aku kembali menjadi penghayat paling khusyuk En , kepalaku tak henti mengejawantah semua kenang yang melintas secepat bayangan pohon di luar jendela kereta api. Dulu, aku begitu membenci Bandung, En . Tapi jika aku telaah secara objektif, bukan kotanya yang kubenci En, melainkan kampus—sebuah anomali dalam masa mudaku yang terlalu panas seperti neraka, haha. Langit mulai meluruhkan bebannya. Hujan turun membasahi pesawahan, gradasi warna hijau yang lebih tajam. Pesona visual itu berpadu mesra dengan daftar putar lagu kesukaanku. Sayang En , kau tidak di sini. Sebab jika kau duduk di sebelahku, akan kubagi kedamaian ini padamu. Sebuah kedamaian yang secara kalkulasi sanggup mengalahkan segala hal menyeb...
