Mengamini Waktu
En,
Apakah kamu percaya? Dan mengamini bahwa manusia mesti
bersiap pada dua perasaan, bahagia dan bersedih? Apakah bagimu itu sebuah
keniscayaan En?
Hampir setiap hari aku merasa nyaris gila berada pada dua perasaan
itu En. Dan seandainya bisa memilih En, aku memilih bersedih saja pada hidup. Sebab
karena itulah mungkin aku tak lagi bisa berharap setelahnya ada kebahagiaan.
Membosankan sekali En.
Tapi apakah semua itu hanya prasangkaku saja En?
Apa karena aku tidak lagi memiliki kepekaan rasa?
Atau kepekaan berpikir sebagai manusia?
Persetan dengan semuanya. Terserah kau memandangku apasaja En, sebab dihadapanmu saja aku hanya
ingin telanjang dan menjadi apa adanya.
Lalu En, apakah kamu juga mengamini bahwa hati manusia itu terdiri dari waktu?
Sesuatu yang kerap disandingkan dengan usia dan kematian, tapi
kenyataannya lebih dari itu En. Aku selalu berpikir bahwa perasaan, yang sering
terasa, adalah rangkuman bagaimana cara kerja waktu membentuk perasaan kita
hari ini.
Kadang, aku ingin mengulang segalanya En.
Tepatnya memperbaiki.
Sebab pada hidup yang tak seberapa ini manusia diberi kebebasan
untuk merasa. Meski tidak semuanya perasaan itu nyaman untuk kita akui.
Lagi dan lagi, En
Aku beriman pada waktu saja, sebab dengan itu aku beribadah
Menggerakkan perasaanku saban waktu
Menuju perasaan-perasaan terbaik
Aminkan, En !
Tasikmalaya, Maret 2026

Komentar
Posting Komentar