We never learn, we been here before
Malam ini aku berada di ketinggian Kota Yogyakarta, En. Di hadapanku lampu-lampu kota berpendar seperti sirkuit yang rumit.
Menyesap espresso yang pahitnya presisi dilidahku. Lalu kubiarkan algoritma Spotify mengambil alih kendali karena aku kehilangan kuasa untuk memilih lagu-lagu. Seperti hidup belakangan ini En, banyak hal terjadi tanpa seizinku. Lagu Puisi Jikustik yang kudengar saat ini berhasil mengacaukan pikiranku, lagu lawas yang mengingatkanku pada Alm. Sonia, sahabat kecilku.
Di perjalananku menuju Purworejo beberapa hari lalu, selama itu pula aku disibukkan menonton keberhasilan misi Artemis II, juga membaca dan mencari tahu Overview Effect, bagaimana para astronot mengalami transformasi eksistensial sangat kompleks sebagai manusia saat melihat Bumi dari kejauhan.
Katanya mereka seperti sedang melihat sebuah bola biru yang sangat kecil, tanpa batas negara, tanpa sekat konflik. Konon sejak saat itu pula ego mereka mengecil En. Meski aku merasa dunia ini begitu mikroskopis di bawah bayang-bayang misi Artemis II, kesedihan yang kupikul malam ini rasanya memiliki massa jenis yang sama beratnya.
Belakangan ini aku berperang dengan sesuatu yang lebih melelahkan dari sekadar konflik dalam diri, En aku berperang dengan kepercayaanku pada manusia.
Aku mencari tahu segalanya, En. Mencari tahu kenapa manusia bisa dengan begitu mudah merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Aku mengklasifikasikannya ke dalam bermacam-macam kotak-kotak logika—feminisme, nihilisme, sufisme—hanya agar aku merasa memiliki arah dihadapan perasaanku belakangan ini. Namun benar memang katamu, En bahwa mengetahui mekanismenya tidak serta-merta menghentikan korosinya. Rumit sekali ya En.
Jika Buzz Aldrin merasa hampa setelah kembali dari bulan karena merasa telah menaklukan misi besar menuju bulan, aku merasa semua rasa sakit akibat dusta manusia ini hanyalah distraksi kecil dibanding hilangnya Ibu. Itu adalah titik nol-ku, En. Orbit tertinggiku sekaligus jatuh terdalamku.
Harry Styles benar dalam lagunya yang terus terngiang di kepalaku:
We never learn, we been here before
Why are we always stuck and running from the bullets?
Mendengar liriknya, aku merasa bahwa sejatinya kita akan terus berlari dari peluru yang sama, En. Peluru ekspektasi, peluru kepercayaan. Seperti Overview Effect, dari ketinggian ini, aku melihat bahwa memaafkan adalah sebuah keharusan demi kelangsungan apapun yang menyangkut diriku En.
Mungkin aku memang tidak perlu susah payah memilih antara menjadi penganut paham tertentu. Cukup menjadi aku yang sedang merasakan kehancuranku sendiri dengan cara pandang seperti seorang saintis dan hati seorang anak kecil yang merindukan ibunya.
Yogyakarta, 16 April 2026

Komentar
Posting Komentar