Bandung



En, aku kembali menyusuri Bandung.

Memutar semua memoar yang fasih kuingat. 

Kota kembang ini sebagaimana mestinya, selalu penuh dengan lagu-lagu. Sepanjang jalan aku tidak berhenti mendengar nada yang begitu karib dengan udara Bandung— lagu-lagu Noah dan Danilla. Aku kembali menjadi penghayat paling khusyuk En, kepalaku tak henti mengejawantah semua kenang yang melintas secepat bayangan pohon di luar jendela kereta api. 

Dulu, aku begitu membenci Bandung, En

Tapi jika aku telaah secara objektif, bukan kotanya yang kubenci En, melainkan kampus—sebuah anomali dalam masa mudaku yang terlalu panas seperti neraka, haha.

Langit mulai meluruhkan bebannya. Hujan turun membasahi pesawahan, gradasi warna hijau yang lebih tajam. Pesona visual itu berpadu mesra dengan daftar putar lagu kesukaanku. Sayang En, kau tidak di sini. Sebab jika kau duduk di sebelahku, akan kubagi kedamaian ini padamu. Sebuah kedamaian yang secara kalkulasi sanggup mengalahkan segala hal menyebalkan yang pernah kita lalui.

Aku ingin membagi hatiku yang sedang hangat ini, En. Sebuah perasaan mesra yang begitu karib. Aku membayangkan kamu ada di sampingku, lalu tanpa banyak kata aku menyandarkan kepalaku di bahumu—mencari titik tumpu paling stabil di tengah guncangan gerbong yang ritmik. Aku bisa merasakan tekstur kasar kain kemejamu di pipiku, dan bau parfummu yang bercampur dengan aroma udara AC kereta yang dingin.

Kita akan berpegangan tangan dalam diam, jemarimu menyelip di antara jemariku, membentuk ikatan mekanis yang kokoh, yang lembut. Aku akan memberikan sebelah earphone-ku, membiarkan kabelnya menjuntai di antara jarak kita yang sudah nol, sementara suara Danilla merayap masuk ke telinga kita: 

"Kulihat sebuah jalan yang masuk menuju batinmu..."

Dalam imajinasiku, kamu akan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarimu, En—sebuah gerakan repetitif yang menenangkan. Di luar sana aroma hujan petrichor mulai menyelinap masuk lewat celah-celah kecil yang tak kasat mata, membawa bau tanah basah yang aromanya persis seperti rindu; murni dan membumi. Aku mendadak tidak sabar untuk segera keluar dari gerbong ini, En. Aku ingin segera menapak di peron Stasiun Bandung, menghirup dalam-dalam udara lembap sarat dengan molekul kenangan yang kupunya.

Bagaimana bisa, En

Merinduimu terasa sehangat ini? 


***


Malam terakhir. Malam yang bertepatan dengan kemenangan krusial Persib melawan Persija. Satu tahap lagi Persib akan kembali menjuarai liga (semoga). Keriuhan ini, lagi-lagi membuat waktu pulangku tertunda lebih lama. Namun, aku memilih tidak mengeluh En. Aku memilih menyerahkan diri untuk menikmati kemenangan Persib. Kehangatan komunal yang masif di udara Bandung, sesuatu yang di luar jangkauan analisis teoritisku En,  sesuatu yang membuatku lemah untuk menjabarkannya dengan segala kata-kata yang ada. 

Gerbang tol Cileunyi bersama gaungan motor konvoi Bobotoh, aku duduk di tepi jalan. Membaur. Aku menghabiskan malam dengan berbincang bersama bapak-bapak pedagang air mineral dan tisu. Percakapan kami mengalir begitu karib, tanpa pretensi, menghidupkan kembali proyeksi masa-masa kuliahku dulu. Ah, waktu bergerak terlalu cepat En—tanpa terasa sudah satu tahun aku menyandang status sarjana. Mungkin Bandung dalam ingatanku akan selalu melekat dengan cara seperti ini En; kehangatan subtil yang tidak akan bisa dijamah oleh jarak.

Kemenangan Persib malam ini, satu detail yang menangkap perhatianku secara absolut: aku melihat air mata segar luruh dari mata para pria , En. Air mata yang jujur, tanpa sekat ego, sesuatu yang sewajarnya ada dan mengalir dalam diri manusia. Sepak bola, dengan cara yang paling ajaib, selalu pandai membawa kita kembali pada kesadaran eksistensial yang paling dasar: bahwa lelaki tidak harus selalu menahan air matanya.

Andai saja kau ada di sampingku malam ini, En.  



Komentar